Sudah cukupkan usia anak kita masuk sekolah dasar(SD)?

Ketika tahun ajaran baru  akan segera dimulai. Para orang tua mulai sibuk mencarikan sekolah Dasar  yang tepat bagi putra dan putri mereka yang telah lulus daritaman kanak-kanak(TK). Ketepatan dalam  menentukan sekolah Dasar sangat diperlukan karena sekolah dasar merupakan gerbang utama memasuki sekolah formal, dimana didalamnya terdapat sejumlah aturan, tuntutan, dan kompetensi yang harus dicapai oleh anak-anak.

Salah satu faktor  penting yang perlu dipertimbangakan orang tua ketika akan memasukan anaknya ke SD adalah faktor usia. Semenjak tahun 80-an hingga kini banyak orang tua yang menyekolahkan anaknya di sekolah dasar dengan usia yang relatif masih sangat muda yaitu antara 5 – 6 tahun bahkan ada yang lebih muda lagi, padahal  usia ideal seorang anak masuk SD adalah  7 tahun. Perbedaan umur beberapa bulan saja  pada anak-anak akan terlihat perbedaan tugas perkembangannya. Bandingkan bayi 6 bulan dengan bayi 8 bulan , hanya berbeda 2 bulan saja, namun jarak umur tersebut  sangat mencolok pada perbedaan tugas perkembangan yang ada pada mereka. Bayi usia  6 bulan baru bisa duduk sendiri, itupun kadang masih terhuyung-huyung, sementara bayi  8 bulan rata-rata sudah mulai merangkak Bandingkan pula kemampuan komunikasi anak umur 2,5 tahun dengan anak 3 tahun misalnya.

Jadi, alangkah lebih baik jika  sebelum masuki anak ke PG/TK, pikirkan dan pertimbangkan dengan matang sebelum nanti kesulitan dibelakang hari  saat mencari SD yg mau menerima anak yg belum cukup umur sementara mengulang TK sepertinya anakpun bosan.

Menurut kajian psikologi perkembangan yang dikemukakan oleh beberapa ahli, tahapan perkembangan anak meliputi kognitif, moral,mental emosional  dan sosial, serta psikomotor.. Dibawah ini akan dibahas perkembangan-perkembangan  tersebut untuk anak usia SD 7-12 tahun

  1. Perkembangan kognitif.

Proses-proses penting anak pada usia 7 -12 tahun,  adalah:

  • Pengurutan,mampu untuk mengurutan objek menurut ukuran, bentuk, atau ciri lainnya.
    • Klasifikasi,mampu untuk memberi nama dan mengidentifikasi benda
    • Decentering,mempertimbangkan beberapa aspek untuk memecahkan masalah.
    • Reversibility, memahami bahwa jumlah atau benda-benda dapat diubah, kemudian kembali ke keadaan awal.
    • Konservasi,memahami bahwa kuantitas, panjang, atau jumlah benda-benda adalah tidak berhubungan dengan pengaturan atau tampilan dari objek atau benda-benda tersebut.
    • Penghilangan sifat Egosentrisme—kemampuan untuk melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain
  1. Perkembangan moral

Tugas perkembangan moral pada usia 0 – 12 tahun adalah:

  • Tahap pertama (usia 0-6 tahun), individu-individu memfokuskan diri pada konsekuensi langsung dari tindakan mereka yang dirasakan sendiri. Tahapan ini bisa dilihat sebagai sejenis otoriterisme dan egosentris
  • Tahap dua ( usia 6 sampai9 tahun) menempati posisi apa untungnya buat saya, perilaku yang benar didefinisikan dengan apa yang paling diminatinya. Penalaran tahap dua kurang menunjukkan perhatian pada kebutuhan orang lain, hanya sampai tahap bila kebutuhan itu juga berpengaruh terhadap kebutuhannya sendiri.  semua tindakan dilakukan untuk melayani kebutuhan diri sendiri saja.
  • Tahap tiga ( Usia 9 – 12 tahun), seseorang memasuki masyarakat dan memiliki peran sosial. Individu mau menerima persetujuan atau ketidaksetujuan dari orang-orang lain karena hal tersebut merefleksikan persetujuan masyarakat terhadap peran yang dimilikinya. Mereka mencoba menjadi seorang anak baik untuk memenuhi harapan tersebut, karena telah mengetahui ada gunanya melakukan hal tersebut. Penalaran tahap tiga menilai moralitas dari suatu tindakan dengan mengevaluasi konsekuensinya dalam bentuk hubungan interpersonal, yang mulai menyertakan hal seperti rasa hormat, rasa terimakasih, dan golden rule.
  1. Perkmbangan mental emosional dan social

Usia 7 – 12 tahun  tugas perkembangan mental emosional dan social  ada pada tahap 4 dan 5, yaitu:

  • Tahap 4 – Industri vs Rendah
    • § Melalui interaksi sosial, anak-anak mulai mengembangkan rasa bangga dalam prestasi dan bangga pada kemampuan mereka.
    • § Anak-anak yang didorong dan dipuji oleh orang tua dan guru mengembangkan perasaan kompetensi dan kepercayaan keterampilan mereka. Mereka yang menerima sedikit atau tidak ada dorongan dari orangtua, guru, atau rekan kerja akan meragukan kemampuan mereka untuk menjadi sukses.

                                               

  • · Tahap 5 – Identitas vs Kebingungan
  • Selama masa remaja, anak-anak mengeksplorasi kemandirian dan mengembangkan kesadaran diri.
  • Mereka yang layak menerima dorongan dan penguatan melalui eksplorasi pribadi akan muncul dari tahap ini dengan perasaan yang kuat tentang diri dan rasa kemerdekaan dan kontrol. Mereka yang tetap yakin dengan keyakinan dan keinginan mereka akan tidak aman dan bingung tentang diri mereka sendiri dan masa depan.
  1. Perkembangan psikomotor

Tugas perkembangan anak usia 7 – 12  tahun pada perkembangan psikomotor mencakup:

-        Mampu melompat dan menari

-        Menggambarkan orang yang terdiri dari kepala, lengan dan badan

-        Dapat menghitung jari – jarinya

-        Mendengar dan mengulang hal – hal penting dan mampu bercerita

-        Mempunyai minat terhadap kata-kata baru beserta artinya

-        Memprotes bila dilarang apa yang menjadi keinginannya

-        Mampu membedakan besar dan kecil

-        Ketangkasan meningkat

-        Melompat tali

-        Bermain sepeda

-        Mengetahui kanan dan kiri

-        Mungkin bertindak menentang dan tidak sopan

-        Mampu menguraikan objek-objek dengan gambar

Dari uraian diatas maka dapat disimpulkan bahwa seorang anak akan siap  secara kognitif, moral, mental emosional dan sosial serta fisik dalam   menerima pelajaran secara formal idealnya pada usia  7 tahun atau  paling awal usia 6 tahun. Bisa jadi seorang anak usia di bawah 6 tahun secara kognitif sudah ”pandai” tapi belum tentu secara mental siap untuk sekolah. Bila anak dipaksakan sekolah sebelum umurnya, yang terjadi adalah pada umur di atas 10 tahun  ia  mulai mengalami semacam kebosanan dan bila ini terjadi, maka si anak bisa jadi malas belajar. Fatalnya adalah hal ini sama sekali tidak terdeteksi di awal dia sekolah. Bisa jadi tahun pertama bersekolah anak baik-baik aja, tapi setelah 5 tahun bersekolah si anak mulai berulah, malas sekolah, bahkan ada yang berdampak ketika mereka memasuki usia remaja atau  dewasa awal. Pada usia ini seseorang semestinya sudah dituntut berfikir secara serius dan matang namun karena proses yang dilaluinya kurang tepat , mereka justeru memperlihatkan sifat yang kekanak-kanakan yang biasa disebut ”masa kecil kurang bahagia”. Banyak anak-anak SMA atau bahkan mahasiswa yang hobinya tawuran, waktunya belajar malahan “cabut”, main game online, dan lain-lain. Bahkan dapat pula berdampak pada masa dewasa  dimana mereka sudah menjadi orang tua bagi anak-anak mereka.

Kondisi ini sangat lumrah terjadi, karena tidak terjadinya keseimbangan antara tugas perkembangan mereka dengan tuntutan realita pada setiap jenjang pendidikan  sekolah formal yang mereka tempuh, dimana pencapaiannya ditentukan oleh kurikulum. Satu sisi anak harus menuntaskan tugas-tugas perkembangan sesuai usianya, tapi di sisi lain sudah dijejali dengan kompetensi dasar yang berhubungan dengan mata pelajaran.

Apabila anak bersekolah dengan usia yang ideal maka seluruh aspek perkembangan kecerdasan seperti IQ, EQ, dan SQ tumbuh dan berkembang sangat luar biasa.

tentu yang diharapkan  bukan sekedar anak-anak yang pintar secara akademik saja tapi juga anak-anak yang matang secara mental emosional, sehingga rentang konsentrasinya sudah cukup panjang, kemampuan menangkap perintah sudah cukup bagus, yang dibutuhkan untuk bisa belajar optimal dan tanpa banyak masalah dari sisi psikologis anak.

Perlu diingat, pelajaran SD saat ini cukup berat, bayangkan dari yang tadinya di TK anak cuma belajar sambil bermain,bernyanyi, menari, membuat prakarya dan sebagainya, mendadak begitu masuk SD sudah dihadapkan pelajaran yang membutuhkan uraian, penjelasan, dan lainnya. Ada ulangan, PR (jika ada), tugas. ,Mereka belajar bukan Cuma setahun dua tahun, tapi seterusnya selama 12 tahun, 6 tahun SD, 3 tahun
SMP, 3 tahun  SMA. Belum ditambah kuliah 3-9 tahun untuk S1 – S3.

Lebih baik anak masuk sekolah dengan usia yang pas atau ideal yaitu antara usia 6 – 7 tahun. Biarkanlah anak puas bermain di
usia bermainnya, tapi nanti pada saatnya dia “harus” sekolah
dan belajar secara formal , dia bisa belajar maksimal dan tidak  keburu “capek” di tengah jalan karena energinya sudah habis di awal. Supaya dia juga tidak “menagih” masa bermain di masa sekolahnya nanti atau masa-masa dewasanya dimana tuntutan sudah semakin banyak dan serius.

“ Ajaklah anakmu bermain pada tujuh tahun pertama usianya, didiklah mereka pada tujuh tahun kedua usianya, dan jadikanlah mereka sahabat pada tujuh tahun ketiga usianya” (Ali Bin Abi Thalib)

Radea’s

By radeas17

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s